Selasa, 08 Desember 2015

Surat Al-Fatihah Ayat Pertama


SURAT AL-FATIHAH


Ayat Pertama, 

 
1.Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang
Sudah menjadi fithrah setiap manusia, bila dia menyebut atau diperdengarkan kepadanya sesuatu yang senantiasa digandrungi oleh hatinya, atau sesuatu yang dibencinya, akan meneyebabkan hatinya bergeta. Semakin kuat kecintaanya atau kebenciannya kepada sesuatu itu maka semakin dahsyat getaran yang merasup ke dalam hatinya. Bila berupa pujian, bagi yang disebut akan menjadi tersanjung dan bagi yang menyebut akan menjadi kepuasan, yang mendengar akan tergetar. Apabila sang pemilik nama adalah kekasihnya, maka tergetarlah hatinya lantaran karena rindu untuk bertemu dengannya, khawatir akan dibenci olehnya, takut akan kehilangannya atau jauh darinya lantaran sangat harap akan kesetiaannya. 

Akan tetapi bila sang pemilik nama adalah orang yang dibencinya, musuhnya, saingannya maka hatinya akan tergetar juga yang terlihat dari ekspresi perubahan wajahnya. Bila musuhnya itu kuat dan ditakutinya, maka  penyebutan nama musuh itu akan menjadi sihir yang membuat ciut  nyalinya, terpuruk  segala keberaniaanya, buyar segala rencanaya, Maka hati-hati dalam menyebut sesuatu di hadapan orang lain,, bisa fatal akibatnya.

Sudah barang tentu lebih dahsyat lagi degnan ASMA ALLAH, apabila nama Allah disebut dengan ketulusan maka para musuh Allah iblis, syetan, jin, orang-orang kafir akan takut. Sudah tentu penyebutannya tidak hanya sebatas gerakan mulut dan getaran suara tetapi disertai keikhlasan, kekuatan niat yang dibarengi serta kekhusukan, otomatis dianya menjadi suatu kekuatan ghaib yang sangat dahsyat yang telah dibuktikan oleh banyak pengalaman spritual dan catatan sejarah . Dengan menyebut satu nama Yang Maha Besar, Sang Pencipta, Pemilik Alam Semesta, Penguasa seluruh isinya, Kekuasaanya tidak pernah terbatas dan tidak terpengaruh oleh sesuatu apapun. Kekayaanya tidak pernah luntur lantaran kemurahannya kepada segala sesuatu, Kasih sayangnya tidak pernah pudar lantaran dosa dan kemaksiatan hamba-hambanya. Kebenciannya tidak pernah menutup pintu maaf dan taubat sepanjang nyawa masih belum sampai ditenggorokan. Kita sebut Nama-Nya karena memang Dia yang pantas disebut-sebut dan dikenang sepanjang hari. Kita Agungkan dia memang karena Dialah Pemilik Keagungan itu, sementara yang keagungan yang lain adalah peminjamnya. Kita Besar-besarkan Dia karena memang Dialah Yang Maha Besar atas segala-galanya, sementara yang lain adalah kecil, kerdil dan tidak ada apa-apanya.Ketika Dia Memberi tidak pernah Sedikitpun Membutuhkan Pemberian apalagi mengharapkan dari kita. 

Maka kita sebut Nama-Nya dengan mengharapkan Pemberian-Nya dengan setumpuk hajad kita yang berbeda-beda. Dan hebatnya Dia sangat suka dengan orang-orang yang "cengeng" selalu meminta apa saja kepada-Nya.Semakin harapan kita semakin banyaklah menyebut Asma-Nya.Dahsyatnya Ar-Rahman dan Ar-Rahim ini mengandung pesan tersirat sebagai refresentasi dari banyak Asma Allah yang lainnya. 

Arrahman,, Pemberi, Pemurah, Pengasih.... Yang Bisa Memberi  hanyalah Yang Memiliki,(Al-Malik) mana bisa leluasa memberika punya orang lain. Yang Bisa Memberi Tidak Terbatas sudah barang tentu Yang Maha Kaya (Al-Ghaniy). Keyakinan kita bahwa Allah akan memberi menjadikan kita memilik rasa ketergantungan yang tinggi (As-Shamad) dst. Pemberian karunia Allah tidak terbatas kepada apa dan siapa saja, Yang taat, yang maksiat, yang sudah kaya, yang masih miskin, yang bodoh, yang kuffur, yang beriman dan yang tidak beriman.

Ar-Rahiim, Penyayang,, Begitu juga halnya dengan kata Yang MahaPenyayang, Meski sebagian mufasir lebih cendrung menafsirkan kata Maha Penyayang ini secara spesial diberikan kepada orang-orang beriman berupa syurga di akhirat. Namun dalam realita nyata di dunia ini saja Rahman dan Rahim Allah itu senantiasa terlihat nyata dalam alam terjemahan refleksi kehidupan. Seekor induk ayam mau bertarung dengan Elang mempertaruhkan nyawa demi seekor dan sebagian anak-anaknya,, Selapar dan seganas apapun singa dan harimau..tapi tidak mau memakan anak-anaknya, bahkan bila berhasil berburu dia segera memberi makan dan mengajari anak-anaknya berburu untuk hidup mandiri. Masya Allah .. meski dibilang ganas induk ikan yang memakan anak-anaknya seperti ikan gabus dan lele, tetapi bila dicermati mereka memakan sebahagian anaknya dalam rangka menyelamatkan sebagian anak yang lain untuk penyambung kehidupan. Dan jumlah sebagian anak-anaknya yang tertinggal benar-benar bisa di bawah kontrol sang induknya. Karena tradisi umum di kebanyakan ikan adalah memakan yang lebih kecil darinya. Kalau anak-anak yang berkembang biak sangat banyak ini dibiarkan diluar kendali sang ibu,, akan mengundang dan bahkan mengacam keselamatan semuanya. Masya Allah,, secuil limpahan sikap Ar-Rahim Allah ini tergores dalam ribuan kisah satwa antara induk dan anak-anaknya. Yang secara spesifik nanti kita bahas dalam judul postingan yang lain.

Sementara demikian ulasan Ayat Pertama dari Surat Al-Fatihah yang dahsyat..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar